
Seseorang bisa dikatakan sehat apabila secara raga dan jiwanya sehat,
jika raga seseorang sehat tapi jiwanya tidak, sama saja seperti orang
yang sakit. Jiwa yang dimaksudkan disini adalah psikis seseorang,
termasuk mentalnya. Itu mengapa adanya kesehatan mental. Karena untuk
menjadi sehat secara utuh diperlukan tidak hanya sehat fisik tapi juga
sehat mental.
Istilah kesehatan mental diambil dari konsep mental hygiene
, kata
mental diambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche
dalam bahas latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan.
Mental hygiene
merujuk pada pengembangan dan aplikasi seperangkat prinsip-prinsip
praktis yang diarahkan kepada pencapaian dan pemeliharaan unsur
psikologis dan pencegahan dari kemungkinan timbulnya kerusakan mental
atau malajudjusment.
Aspek psikis manusia pada dasarnya merupakan satu kesatuan dengan
sistem biologis, sebagai sub sistem dari eksistensi manusia, maka aspek
psikis selalu berinteraksi dengan keseluruhan aspek kemanusiaan. Karena
itulah aspek psikis tidak dapat dipisahkan untuk melihat sisi jiwa
manusia.
Ada beberapa aspek psikis yang turut berpengaruh terhadap kesehatan mental, antara lain :
Pengalaman awal Pengalaman awal merupakan segenap
pengalaman-pengalaman yang terjadi pada individu terutama yang terjadi
di masa lalunya. Pengalaman awal ini adalah merupakan bagian penting dan
bahkan sangat menentukan bagi kondisi mental individu di kemudian
hari.Kebutuhan Pemenuhan kebutuhan dapat meningkatkan kesehatan mental
seseorang. Orang yang telah mencapai kebutuhan aktualisasi yaitu orang
yang mengeksploitasi dan segenap kemampuan bakat, ketrampilannya
sepenuhnya, akan mencapai tingkatan apa yang disebut dengan tingkatan
pengalaman puncak.Dalam berbagai penelitian ditemukan bahwa orang-orang
yang mengalami gangguan mental, disebabkan oleh ketidakmampuan individu
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kebutuhan yang dimaksud di sini adalah
kebutuhan dasar yang tersusun secara hirarki. Kebutuhan biologis,
kebutuhan rasa aman, meliputi kebutuhan dicintai, kebutuhan harga diri,
pengetahuan, keindahan dan kebutuhan aktualisasi diri.
Gangguan dan penyakit jiwa
- Psikosomatik
Adalah penderita yang menemukan kelainan-kelainan atau keluhan. Pada
tubuhnya yang disebabkan oleh faktor-faktor emosional melalui syarat
yang menimbulkan perubahan yang tidak mudah pulihnya, misalnya : sulit
tidur jika banyak masalah, hilang nafsu makan, makan berlebihan.
- Kelainan kepribadian
Penderita sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Misalnya orang suka meledak emosinya.
- Retardasi mental
Adalah keterbelakangan atau keterlambatan perkembangan jiwa seseorang.
Contoh dalam memahami sesuatu ilmu pengetahuan yang baru di dapat atau
kata-kata baru, cara pemahamannya terlalu lama.
- Rasionalisasi
Dimana penderita sering memutarbalikkan fakta yang bersangkutan dengan
ego individunya sendiri atau dalam arti lain memutarbalikkan hati
nuraninya sendiri yang mengakibatkan kepercayaan diri hilang.
- Neurosis
Adalah gangguan jiwa yang penderitanya masih dalam keadaan sadar, dengan
melalui ketidakberesan tingkah laku, susunan syaraf juga karena sikap
seseorang terhadap orang lain. Ciri-ciri neurosis meliputi : sering
adanya konflik, reaksi kecemasan, kerusakan aspek-aspek kepribadian,
phobia, gangguan pencernaan. Seseorang yang terkena neurosis mengetahui
bahwasanya bahwa jiwanya terganggu, baik disebabkan gangguan jasmani dan
jiwanya sendiri.
- Psikosis
Pada psikosis ini penderita sudah tidak dapat menyadari apa penyakitnya, karena sudah menyerang seluruh keadaan netral jiwanya.
Ciri-cirinya meliputi :
- Disorganisasi proses pemikiran
- Gangguan emosional
- Disorientasi waktu, ruang
- Sering atau terus berhalusinasi
Terapi Gangguan Jiwa
Terapi di sini mengandung arti proses penyembuhan dan pemulihan jiwa
yang benar-benar sehat. Di antaranya terapi-terapi yang digunakan
meliputi beberapa bentuk :
- Terapi holistic, yaitu terapi yang tidak hanya menggunakan obat dan
ditujukan kepada gangguan jiwanya saja, dalam arti lain terapi ini
mengobati pasien secara menyeluruh
- Psikoterapi keagamaan, yaitu terapi yang diberikan dengan kembali mempelajari dan mengamalkan ajaran agama
- Farmakoterapi, yaitu terapi dengan menggunakan obat. Terapi ini
biasanya diberikan oleh dokter dengan memberikan resep obat pada pasien.
- Terapi perilaku, yaitu terapi yang dimaksudkan agar pasien berubah
baik sikap maupun perilakunya terhadap obyek atau situasi yang
menakutkan. Secara bertahap pasien dibimbing dan dilatih untuk
menghadapi berbagai objek atau situasi yang menimbulkan rasa panik dan
takut. Sebelum melakukan terapi ini diberikan psikoterapi untuk
memperkuat kepercayaan diri.